Lament for (...)
Mama
bilang sewaktu usia lima belas bulan aku sering dicubit sampai tertidur. Begitu
cara sebagian orang membaringkan bayi, habis dibuat tersedu-sedan lalu dijejali
botol formula. Kamu bayi pengidap insomnia, katanya. Ini cerita yang tak
pernah jangkau telingamu sebab letaknya disimpan khusus untukku—bukan yang
memalukan seperti insiden salah naik gerbong kereta atau rekaman lomba menyanyi
yang selalu diulang-ulang setiap kamu berkunjung. Yang ini kartu terminal,
disodorkan padaku kala dirasa anak perempuan pertama terlalu banyak opini juga
bantahan nekat. Bukan Mama, yang mengamini caranya. Justru, aku bersyukur
semestinya, bahwa pengasuhku dipulangkan segera pasca ungu-biru memar mulai
timbul, merebak seperti gejala cacar. Kamu bayi yang susah tidurnya, Mama
bilang, pantas saja terbawa sampai dewasa.
Terpikir
lagi olehku lantaran komentarmu sore kemarin, soal caraku mengaduk kopi, kok
bisa—siapa yang ajari kamu memuntir sendok tanpa bersuara? Wajahmu kaget
sekali saat aku mengulang nasihat yang kudengar dulu. Malu didengar orang di
ruang tamu. Jangan disinggung, bawa langsung nampannya tanpa tawar-menawar.
Jangan cangking lipatan serbet. Jangan berdiri, berjalan seperti ini. Bekas
telapak kakiku pun pasti ikut diteliti. Kadang kamu mengingatkanku akan beribu
hal yang tak pernah didengar laki-laki. Absurd sekali, ya? Episode insomniaku
bukan satu di antara aturan-aturan mustahil itu. Benar adanya, minatku
mengenangnya berangkat dari simpati serupa bulat kedua matamu, kemudian
perkiraku bahwa kamu akan merenunginya berkali-kali sampai larut pagi, atau
malah pagi berikutnya dan seterusnya.
Memang
tak pernah kutebus terang-terangan, tapi aku kerap sengaja memancing reaksimu
atas perkara-perkara begini—begitu jauhnya mereka berbanding
kebiasaan-kebiasaan yang kamu pijak, apakah kamu sadar saat perhitungmu menajam
ke atas, tak ubahnya tahun-tahun kamu mulai mengutil dari kios-kios pasar buku
bekas (jangan kira aku sudah lupa). Ya, kamu telah lama beranjak dari sana,
kusimpan hasil pengamatan ini, cukup aku yang mengerti ke mana perginya amarah
yang susah-payah kamu padamkan merupa kerjap sumbu lilin. Oleh keegoisan yang
sama pula, rahasia-rahasia ini kubeberkan dalam dosis terkecil. Hari ini
peristiwa begal yang tertangkap CCTV teras, besok nama-nama kontak yang Mama
idamkan sebagai menantu. Mungkin, aku hanya takut kamu akan bosan suatu saat. Kamu
terlanjur memetakan isi kepalaku, demikian akuratnya, dan aku terpaksa
menguntai penyebab carut-marut koridor dan setiap pintu.
Tetap
saja, kamu gulung rapi selembar. Aku sudah baca, katamu, hampir tiga
puluh persen bayi dan balita dapat mengidap insomnia. Kiramu, angka itu
termasuk dalam batas wajar? Tak sampai hati aku mencari opini kedua. Bilang
pada Mama—kamu genggam tanganku, saat bicara begini—kamu bayi yang
normal-normal saja. Aku tertawa. Aku punya tiga adik laki-laki, jawabku,
bukankah seorang ibu yang paling memahami perilaku bayi? Kamu setuju. Tapi,
kamu anak perempuan pertama.
Lalu,
perpanjang insomniaku ini, bagaimana?
Kamu
menggeleng. Artinya kurang yakin atau memang tidak ada kaitannya, menurutmu,
benang merah yang sebetulnya ditarik dari pangkal lain, berjarak barisan rumah
menuju pradugaku. Semua orang paham anak-anak tak pernah bisa disalahkan.
Lantas yang mereka bawa ke tahun-tahun berikut sering kali tersirat lipat saku,
dicuci berkali-kali hingga kering mengkerut, tenggelam oleh pernak-pernik lain
yang dijejalkan atas maksud tertentu: sapu tangan lusuh, nota bekas berbelanja,
tablet vitamin C, buku pramuka, sebutir kancing lepas.
Siapa
yang mengajarimu, dulu, untuk menjahit kembali kancing-kancing yang lolos dari
benangnya? Tanganmu telaten dan mudah memaafkan. Aku dibuat iri setengah mati.
Mengapa kita bisa sama sekaligus sangat berbeda? Semakin kuceritakan, semakin
tidak masuk akal. Pun aku tak sepantasnya mencari pembelaan darimu, dari
reaksimu akan ceritaku, atau simpati yang muasalnya masih kerap kuragukan. Aku
merasa sumbang. Menurutmu, apakah saat bayi dulu suara tangisku pun tak kalah
janggal? Kupikirkan wanita pengasuh itu, yang tak pernah kukenal nama maupun
wajahnya, kira-kira apa yang dia lakukan dan berapa anak yang sekarang dia
punya? Mungkinkah dia perlakukan bayinya sendiri lebih buruk dari milik orang
lain?
Kuharap
mereka hidup lebih bahagia, katamu. Meski kita berdua sama-sama
mengerti kenyataannya tak pernah sebaik itu. Aku tersenyum padamu setelah
kupahami sejauh mana ketulusan hatimu.
Comments
Post a Comment