Kamu sulit sekali ditemui
Yoongi, kamu sulit sekali ditemui. Dari lelapku kutunjuk tiga kali kamu menjelma kelebat lampu, tiga selanjutnya kamu menolak mampir, kemudian satu kesempatan kamu benar mendekapku. Apa artinya saat kita dikerubung koloni berpasang-pasang kaki, dan aku teramat yakin kamu betul ada di sana sebab suaramu tak pernah kulupa, namun derai panggilku justru terjawab oleh tangan yang bukan milikmu sama sekali? Aku tidak menyambutnya, Yoongi, meski bulat kacamatanya tak asing lagi dan pakaiannya disetel necis. Berani betul dia. Sejak kapan namanya berawalan Y dan berakhiran i-yang-kupinta-dan-kunanti-presensinya? Aku tidak sedikitpun merasa senang atau gembira—perlu kutekankan, aku tak ingin kamu salah paham.
Yoongi, kamu teramat sulit ditemui hingga kadang kurasa cukup hari itu saja, di usiaku yang bukan apa-apa, mungkin tegur sapa kita tidak saling temukan resonansinya. Tapi hanya kadang-kadang, tidak selalu. Hatiku sebetulnya tidak seluhur itu. Kamu tahu ini. Habis kutulis terang-terangan, kamu rangkai jawabnya seperti apa lagi? Sering kali surat-menyurat ini bernoda buram sampulnya, sengaja, anggapku ritual sepantasnya nomor-nomor pos yang terus berganti juga nama-nama jalan yang keliru. Sementara kamu diam-diam tahu. Artinya, apa tak lebih substantif dari mimpi terakhirku, yang diserobot pelompat waktu dari tahun 1967? Kamu akan tegur tendensiku meletakkan makna di sudut-sudut sepi; bahwa mimpi tak selalu punya arti dan begitu saja dia—mimpi. Tapi kamu betul ada. Aku tahu ini, Yoongi. Kadang, mereka kirim pesanku cukup sampai sana.
Comments
Post a Comment