Nicely, Nicely Clive

 

clive durham siapkan orasi untuk esok pagi—di cermin ketika satu-persatu lapis linen mengukuh nasibnya, di altar beserta iring-iringan organ, lalu di tatap muka Maurice saat orang lain tak mengawasi. Atau, demikian kira Clive, yang akan menikah esok hari. maurice, pikirnya, Maurice yang tak pernah berhati-hati, gelombang sangsi di seberang telepon meski tulus ia janjikan: ya, Clive, aku akan tiba hari itu, juga Agustus setelahnya. Maurice akan menunggu, bangkit, terseret sorak-sorai dan tepuk tangan. Clive menyiapkan orasi meski tak ada yang mengharuskannya. Panggung kedua ia patuhi sedang nama Maurice tergelincir di daftar hadir. Lima bulan tak berkabar. Enam detik menyambung transmisi. Tujuh alamat sebagai prakata. Kamu orang kedelapan, Maurice, yang kami hubungi hari ini. Tidak jadi perkara, tentunya?

Habis sudah tenggat-tenggat lama, tak ada lagi yang sepakat ruang mana yang mereka inapi juga bisik-bisik apa yang baiknya disimpan sendiri. Besok maupun Agustus setelahnya; dan akhir musim panas juga kemudian hari. Maurice, Maurice—kamu pasti mengerti. Ia akan datang lalu mengamini ikrar-ikrar atas nama Yang Kuasa. Inilah yang semestinya. Masihkah ia pandang Clive, seperti malam terakhir mereka atau dari jendela asrama?

Clive Durham siapkan orasinya, untuk berjaga-jaga.


ditulis untuk qia,
selamat ulang tahun ya!

Comments