Kremasi
Kuhampiri
orang itu oleh sebab postur dinginnya yang mirip sekali denganmu. Kubilang
padanya kursi itu pernah diduduki Saiful Bahri dan semangkuk angsle yang ia
lahap dulunya lebih penuh mutiara dibanding potongan roti. Asumsiku ia bakal
terkesan, namun jarinya yang kurus justru mencengekeram tepian mangkuk seperti
tengah bersiap kabur ke meja lain tanpa sama sekali mengindahkanku. Matanya
pasti lebih sehat darimu. Ia teliti ekspresiku cukup lama sebelum diumumkannya:
“Saya tidak punya kenalan bernama Saiful Bahri.”
“Oh,
bukan,” jawabku. “Dia seorang musisi terkenal—dulu.”
“Dulu
kapan?”
“Waktu
kita remaja,” jawabku lagi, dijemput sesal yang tak yakin kita di sini
merujuk kepada siapa. Memang ia tampak seusia kita, paling tidak dua-tiga tahun
di bawahku, tapi ini pula usia-usia yang tak enak disinggung jika nama saja
belum saling tahu. Buru-buru aku menambahkan, “Anda tahu film Tiga Dara?”
Ketika
ditautkan, alisnya tampak semakin mirip milikmu.
“Tidak
apa,” kubilang, “lagi pula dia lebih terkenal di sebelah.”
“Sebelah
mana?”
Ya
Tuhan. “Di Malaysia, dia yang menulis lagu kebangsaan mereka.”
“Oh, dia
orang Malaysia?”
“Oh,
bukan.” Kini aku yang mencengkeram tepian meja. Sepasang alisnya kembali
melentur ke tempat semula dan kusadari mereka lebih cokelat lempung daripada
cokelat tua, pangkalnya menukik bukan pada jembatan hidung melainkan sependek
lengkung kelopak mata, hidungnya sendiri pun standar saja—tidak pesek ataupun
mancung. Panjang rambutnya paling dekat denganmu di usia dua puluh tujuh,
potongan terpendek yang kuingat (selain satu waktu itu kamu mencukur habis
kepalamu untuk kemudian kamu jual setiap helainya, sebagaimana Jo March di
babak kedua Little Women). Hanya posturnya, batinku. Postur dinginnya saja. Dan
tak mungkin aku beritahunya demikian.
Timbang-timbang
pilihanku: angkat kaki atau terus melanturkan Saiful Bahri, yang tentu saja
lahir dan besar di kepulauan yang sama dengan kita namun memilih untuk habiskan
separuh lain hidupnya di sebelah—bisakah ia lalu disebut warga negara Malaysia?
Kita tidak pernah pusingkan kewarganegaraannya, dulu. Kita lebih sibuk
mengulang-ulang Kisah Malam di Djalan Lembang, menyalin kunci-kunci seriosa
pada barisan tuts piano milik sudut rumah tantemu di Embong Arab.
Paling-paling, yang kita perdebatkan sebatas nada sumbang lalu giliran siapa
yang boleh membawa pulang rekaman terbarunya pekan itu.
Di
hadapanku, Orang Berpostur Sedinginmu tidak menunjukkan tanda-tanda
ketertarikan berlebih pada musik populer dua dekade lalu. Mungkin ia lebih
gemar musik-musik Barat yang semakin sering diputar di radio. Ya, tentu mereka
tidak buruk juga. Kamu sempat tergila-gila dengan Voulez-Vous, kamu menyebutnya
lagu disko terbaik abad ini. Ada benarnya, melihat statistik mereka yang
semakin merosot dari tahun ke tahun—namun kamu tak pernah tahu-menahu akan usia
pendek diskotek beserta musik pengiringnya.
Astaga.
Aku jadi berkunang-kunang. Disko hampir mati. Orang-orang tak lagi mengenal
Saiful Bahri. Kamu tak akan tahu. Kamu mungkin tak percaya, andaipun aku bisa
memberitahumu. Baiknya aku berhenti basa-basi dan berpura-pura tidak mencarimu
di kursi yang tak pernah kembali kamu duduki?
Orang
Yang Bukan Kamu sudah bosan menatapku rupa-rupanya. Tak lagi berminat pada
sejarah panjang kursi kios angsle yang pernah diduduki satu orang terkenal dan
sepuluh ribu orang biasa saja. Bila orang terkenal itu bukan siapa-siapa
baginya, apalagi aku yang tak bernama ini. Dalam mangkuknya tersisa separuh
gigitan putu mayang, gumpal butir mutiara, juga kacang hijau yang lebur dengan
kuah santan. Tiba-tiba ia bicara pelan seolah tak ingin didengar pengunjung
lain di sekeliling kami, “mutiara di sini selalu anyep.”
Aku
kurang yakin, apakah komentar itu berkesan positif atau tidak. “Ya?” tanyaku,
memastikan.
Ia
mengangguk-angguk saja, barangkali kurang yakin juga. Kemudian disendoknya
butir-butir merah jambu yang menggumpal itu.
“Lebih
enak begitu,” tukasku, kali ini lebih yakin.
Ia masih
mengangguk-angguk. Kemungkinan setuju, sebab matanya kembali menelitiku, namun
tanpa kilat segan atau curiga. Aku tersenyum padanya ketika kutanya, “Anda tipe
orang yang menyisakan bagian terenak untuk dimakan terakhir, ya?”
“Hampir
tidak pernah ada yang menanyai saya semacam ini,” jawabnya sambil menarik sapu
tangan dari lipit saku kemeja. “Pertanyaan anak muda.”
“Kalau
dimakan paling awal, jadi tidak ada lagi yang bisa dinanti-nantikan.”
“Betul.”
Kutemui
senyumnya untuk pertama kali. Aku tidak mengoreksi responsku, tidak mengakui
bahwa pernyataan tersebut bukan murni sepenuhnya milikku melainkan apa yang
dikutip dari orang lain dulu sekali. Bahkan, dulu aku menganggapnya omong
kosong—semangkuk angsle, paling-paling lima menit juga sudah tandas, untuk apa
mengurut-urutkan mana yang mesti duluan dimakan? Apa-apa kok dibikin ribet?
Waktu itu, kamu bilang aku hanya tidak bisa mengapresiasi hal-hal kecil dalam
kehidupan. Biasanya, ini kemampuan yang mesti dipelajari seiring berlipatnya
umur (kecuali untuk orang-orang sepertimu yang sejak lahir memang disetel
seperti itu). Aku masih tidak tahu, di usiaku ini, apakah telah pantas
mengaminkannya?
Sehabis
mengelap telapak tangan pada kain celana, ia hati-hati kuulurkan. “Anda sering
ke sini sendiri?”
“Iya.”
“Saya
juga.”
“Dulu
tidak selalu.”
“Ya,
hanya sekarang ini.”
Kami
bersalaman. Aku ingin memberitahunya bahwa anekdot Saiful Bahri itu kulihat
sendiri—dari meja seberang, tahun ‘61, kamu tak bisa berhenti memelototinya
sehingga aku mesti menyeretmu pulang. Kamu marah padaku sampai tiga hari
lamanya; harusnya kita minta tanda tangan, harusnya kita sekadar menegur
selamat malam, dan sebagainya, dan sebagainya. Kesempatan yang hilang
bertahun-tahun lalu, ternyata masih saja kubicarakan.
Niat itu bersemayam saja di benakku. Kulepas tangan yang kasar dan berkeriput. Samar-samar bisa kudengar suaramu, menyebutku masih sama saja—kamu ini tidak pernah berubah, ya?
Comments
Post a Comment