when it gets dark, i tow your heart away



Kamu tidak ingin berdiri di samping tomat dan kentang.

“Hanya untuk foto, sebentar saja,” katanya.

Kamu paling benci menuruti perintahnya, meski caranya sampaikan perintah itu masih semanis dulu—alis dilengkungkan, binar bertebar pada pupilnya yang bulat. Dari gelagatnya, siapa yang tidak tahu akan mengira dia justru tengah memohon dengan payah, bahwa kamu yang kejam karena tidak mau difoto bersama tomat dan kentang.

Mereka tentu tak sadar akan subtilnya diksi imperatif dalam kalimat itu: hanya, dan untuk foto, dan sebentar saja. Hanya? Cuma? Apanya yang cuma? Lalu apakah kepentingan fotomu di antara tomat dan kentang, selain minat personal miliknya? Siapa bisa jamin potret itu bakal memakan waktu sebentar? Lagi pula, sebentar itu penunjuk waktu yang arbitrer sekali.

I’d rather you put me in a doll’s house,” bantahmu, sebelum menyesali implikasinya.

And dress you up nicely?

This place is hideous,” potongmu. “Bisa-bisa aku digigit tikus tanah.”

“Tenang, mana mungkin kamu kutinggalkan.”

Mendengkus, kamu timbang berat barang bukti dalam kepalamu, masing-masing kertas bungkusnya terkoyak, tercerai-berai di lantai. Selembar tanggal saja cukup dilipat membentuk protes: terus, yang kemarin itu apa? Itu dia keahlianmu, merusak suasana. Kamu belum sampai di tahap bebersih kamar. Menurutmu, kapal pecah yang ini agak mustahil dibereskan sendiri.

Dan bukankah alasan itu juga yang membawamu ke antah-berantah ini, koper di undakan terasnya dan lumpur tersangkut gerigi ban mobil? Kamu cari kesungguhan dalam binarnya; arus deras di bawah jembatan. Neraca itu pun kamu singkirkan dahulu. Meski sambil menggeleng, kamu bilang, “Kuhitung sampai lima.”

Giginya timbul saat dia tersenyum. Mungkin, kamu mestinya takut digigit kelinci.

Dia mendorongmu sampai posisi. Lalu jemarinya sibuk mengatur lensa. Kamu silangkan lengan, menukar tumpuan di kaki kanan dan kiri, hitung mundur kamu simpan dalam hati. Namun kamu menghitungnya agak terlalu cepat, pengaruh buruk tempo nadimu yang tiba-tiba melejit, ini baru kamu sadari ketika sampai di angka satu sedang wajahnya masih mengerut di balik jendela bidik. Yaelah. Mulai lagi dari lima.

Nice!” ucapnya penuh semangat, seolah kamu sangat membutuhkan kata-kata motivasi. “Satu lagi.”

Angka dua gugur. Daun-daun di kebunnya menjulang tinggi, lebih tinggi dari sewajarnya pohon tomat dan semak kentang. Terlalu banyak kerjap lampu dan bunyi krek-krek gulungan film meyakinkanmu bahwa dia habis membual saja. Kan. Apanya yang sebentar? Demikian pula, kamu takluk pada permintaannya. Lagi. Sialan. Pinta atau aba-aba? Butir tomat menggantung merah-hijau, kamu harap ada yang runtuh menimpa lima inci tubuhmu. Gunduk kentang bisa longsor menguburmu hidup-hidup. Tikus tanah mungkin tengah bersembunyi tepat di bawahmu, menanti momen paling akurat untuk gali pijakan kaki.

Senyum kelinci hangat oleh pujian. “Bagus, kamu masih pandai berpose candid begitu.”

“Oh, ok.” Kamu mengerjap, pagi itu tiba-tiba terasa terik. Padahal ini bulan Februari. “You could sell those to Vogue or summat.”

I should ring them this afternoon.”

Yeah, sure.” Tanganmu meraih sebutir tomat matang, kamu pilih yang bundar semungil bola pingpong. Butir itu lantas memelesat ke arahnya, dia merunduk meski lemparanmu jelas melenceng agak jauh.

“Hei, jangan buang-buang panenku!”

Kamu tertawa. “Alright Old MacDonald. Can we go inside now?

To your doll’s house, yes.”

Niat impulsif untuk melemparinya bongkah kentang kamu abaikan. Langkahnya berderap di belakangmu, melambat ketika pundak kalian saling menyapa. Lampu di balik jendela dapur tampak hangat selagi kamu bayangkan rumah boneka dengan perabot mungilnya.

 

Comments