Rambutnya berderai gula-gula

 

Rambutnya berderai gula-gula di hari aku pertama melihatnya. Umurku tak seberapa, waktu itu. Tapi sekarang dua puluh dua juga tak kalah kelabakan ditodong riuh pesta. Bisa saja hari itu dia mencium trofi, rayakan merah jambu yang luntur dari cat rambut hingga coreng lipstik dan dua belah pipi. Atau, diam-diam, di balik tirai, dia mulai panik ketika semua lampu padam lalu kursi-kursi dilipat ke tepi. Aku sendiri, di tahun sebaya, tak pernah tahu bahwa aku perlu pulang kadang-kadang, angkat panggilan dari rumah juga menggumam paham setiap dicabut carik-carik buram tagihan.

Kamu dulu ... kamu, waktu itu—lidahku terantuk segan. Niatnya kupinta dia mendikte koordinat di langit, menggambar hal-hal yang disukainya lalu ikut kusimpan di ceruk ingatan. Tapi dia tepuk saja puncak kepalaku. Dua puluh dua miliknya hangus dilalap subuh yang terus terjaga dan alamat yang tak punya tanda namanya. Dulu, waktu itu, umurnya pun tak seberapa.

Kamu sekarang, apa sudah temui itu? Lantas ditulisnya larik-larik tegas yang menukik tajam, seperti busur pada langit dan anak panah melengkung kembali ke bumi, pada akhirnya. Meski pertanyaanku selalu samar, kadang tak sepenuhnya kupahami, dia akan bilang mungkin di lain hari. Mungkin di masa depan. Mungkin lima tahun lagi. Dua puluh dua, puluh tiga, puluh empat. Dalam retrospeksi kurenungkan makna yang dahulu gagal kuraba-raba, peta yang dia tinggalkan di meja, bahwa kuharap perahumu berlayar arungi gelombang pasang. Selalu, selalu, dia baca pencarianku tanpa runtut halaman pengantar. Karena kami serupa? Di muka cermin terbaring menghadap awan, apakah pandangnya pun kerap tertuju pada binar yang sama? Dan ketika dipaksa mendarat lagi, kami saling membenci wajah yang timbul di sela kaki. Atau, hanya dulu, pada suatu waktu. Dia sepuluh tahun lalu. Aku dan pencarian panjang. Kupikir, sampai kapan pun, dia akan selalu tahu.


selamat ulang tahun,
yoongi

Comments