lovers, in two parts


 

1

Gitarmu terbawa bak belakang mobilnya. Melaju terus alur roda searah migrasi angsa-angsa. Terlambat panggilmu pasca belokan ketiga. Turun di mana? Alun-alun, selarut ini masih ramai juga, ya? Mungkin kamu telepon saja dia. Orang Itu. Mobil Yang Kutumpangi. Ziarah Sampai Teluk Asmara. Molten, ketikmu, apa kutinggal di bagasi? Lalu dia pikir kamu tengah bicarakan kepak angsa menaung atap kemudi. Molten, Morten, Mo-ru-ten. Dia tak pernah tahu kamu ikut menamai gitarmu, tajuk selaras dongeng tidur oleh pengarang Swedia itu. Satu dari banyak kisah yang kalian susun sepanjang perjalanan. Molten—maksudku, ketikmu lagi, gitar di bak belakang mobilmu? Semakin tinggi purnama juga bayangan duyun-duyun angsa. Formasi mereka masih bisa kamu tangkap, sesekali. Panggilan tiba justru dari kilometer empat puluh. Kenapa kamu pilih nama itu? Pertanya seakan Molten lebih penting dibanding kenapa kamu tinggalkan instrumen itu di bagasi. Molten, atau Mo-ru-ten, begitu dia lafalkan. Akan kuberitahu nanti, kamu jawab. Kerjap tekuni debur napasnya. Masih dia tunggu permintaanmu yang kedua. Kuceritakan nanti, lanjutmu, boleh kuminta kamu antar kembali?


2

Kacamatanya lalu tertinggal di selasar baris bukumu. Setumpuk terjemah anyar Stefan Zweig, edisi kolektor Norwegian Wood, satu-dua kamus bahasa Kanton terselimut debu. Bingkai lensa menyudut halus bagai coret lingkar yang ragu-ragu; tidak yakin mesti di mana menutupnya, sampai mana mengejarnya, dari mana permulanya. Kacamatamu, kenapa ditinggal di sana? Kamu cemas mengukur periferi langkah itu, lewat pukul delapan, pasca gerimis mereda. Kubilang, harusnya kamu naik taksi. Dia tersenyum saja pada reka ulang teledor sore tadi. Pandangku semerbak titik-titik hujan—dalihnya. Kacamata masih perlu kukeringkan—lanjutnya. Kamu pertimbangkan lagi: jarak kalian di sofa, lutut membentur juga kilas samar parfum. Mati-matian, belum habis juga dia tutup-tutupi. Mau sampai kapan ya, dia cari-cari alasan begini? Padahal, kamu bilang, ruang tamuku tidak sesempit itu. Lantas dia pura-pura mengecek arloji, meski seumur hidup tak pernah tahan membebat pergelangan tangan. Apa? Sudah selarut ini? Alun-alun pun lampunya telah dipadami. Jalannya akan gelap. Dia mengangguk tahu. Di sana, kacamatamu tak sebegitu berguna. Gumam lirih membahu. Kadang kamu hanya tak mengerti mana yang lebih diinginkannya, namun terus saja kamu biarkan lapang pintu itu.

Comments